Akhlak yang diajarkan Agama Islam dalam memahami qada dan qadar adalah …
A. Setiap keburukan kesalahan manusia dan kebaikan adalah anugerah-Nya.
B. Berbuat baiklah, sebagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik.
C. Keteladanan merupakan kunci keberhasilan pergaulan sesama.
D. Sibukkanlah mencari kekurangan yang ada dalam diri.
Jawaban yang benar adalah A. Setiap keburukan kesalahan manusia dan kebaikan adalah anugerah-Nya. Pilihan ini paling tepat karena qada dan qadar mengajarkan manusia untuk menerima ketentuan Allah, tetapi tetap menyadari bahwa kesalahan dan keburukan yang dilakukan manusia tidak boleh dilemparkan kepada Allah. Dalam konteks akhlak yang diajarkan agama islam dalam memahami qada dan qadar adalah sikap rendah hati, bersyukur atas kebaikan, dan bertanggung jawab atas kesalahan.

Mengapa jawaban A paling tepat?
Qada dan qadar adalah ketentuan Allah, tetapi manusia tetap diberi akal, kehendak, dan tanggung jawab dalam bertindak. Karena itu, sikap yang benar adalah tidak sombong saat mendapat kebaikan dan tidak menyalahkan takdir saat melakukan keburukan.
Dalam Islam, kebaikan yang diterima manusia dipahami sebagai karunia Allah. Misalnya, seseorang bisa berhasil belajar karena diberi kesehatan, waktu, kemampuan berpikir, dan kesempatan. Semua itu patut disyukuri. Sebaliknya, jika seseorang berbuat salah, seperti malas belajar atau menyakiti teman, ia tidak boleh berkata, “Ini sudah takdir.” Ia harus mengakui kesalahan, bertaubat, dan memperbaiki diri.
Inilah inti akhlak dalam memahami qada dan qadar: percaya kepada ketentuan Allah tanpa meninggalkan usaha. Iman kepada takdir bukan alasan untuk pasrah secara salah, melainkan dorongan untuk berusaha, bersyukur, sabar, dan bertanggung jawab.
Mengapa pilihan lain kurang tepat?
Pilihan B, “Berbuat baiklah, sebagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik,” adalah nasihat akhlak yang benar secara umum. Namun, isinya lebih berkaitan dengan hubungan sosial antarmanusia, bukan inti khusus tentang memahami qada dan qadar.
Pilihan C, “Keteladanan merupakan kunci keberhasilan pergaulan sesama,” juga berisi nilai baik. Akan tetapi, pembahasannya mengarah pada pergaulan dan contoh perilaku, bukan sikap manusia terhadap ketentuan Allah.
Pilihan D, “Sibukkanlah mencari kekurangan yang ada dalam diri,” bisa terdengar mirip dengan muhasabah atau introspeksi. Ini pilihan yang cukup mudah mengecoh. Namun, kalimat tersebut tidak lengkap untuk menjelaskan iman kepada qada dan qadar. Memahami takdir bukan hanya mencari kekurangan diri, tetapi juga menyadari bahwa kebaikan adalah anugerah Allah dan kesalahan manusia harus dipertanggungjawabkan.
Jadi, pilihan A paling sesuai karena langsung menghubungkan dua sisi penting: kebaikan sebagai anugerah Allah dan keburukan sebagai akibat kesalahan manusia.
Makna akhlak dalam memahami qada dan qadar
Akhlak yang diajarkan agama islam dalam memahami qada dan qadar adalah sikap seimbang antara iman, usaha, dan tanggung jawab. Seorang muslim tidak boleh merasa paling hebat ketika berhasil, sebab keberhasilan terjadi dengan izin Allah. Ia juga tidak boleh menyerah sebelum berusaha, karena manusia diperintah untuk berikhtiar.
Contohnya sederhana. Jika seorang siswa mendapat nilai baik, ia bersyukur kepada Allah dan tetap rajin belajar. Jika nilainya buruk karena kurang belajar, ia tidak menyalahkan takdir, tetapi memperbaiki cara belajarnya. Sikap seperti ini menunjukkan pemahaman yang benar terhadap qada dan qadar.
Cara cepat mengenali jawaban soal seperti ini
Untuk soal tentang qada dan qadar, cari pilihan yang memuat tiga unsur: percaya kepada ketentuan Allah, tetap berusaha, dan bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Jika ada pilihan yang hanya membahas pergaulan, keteladanan, atau nasihat umum, biasanya pilihan itu kurang tepat.
Mudahnya, ingat rumus ini: kebaikan disyukuri, kesalahan diperbaiki, takdir diimani. Dengan cara itu, jawaban A dapat dikenali sebagai pilihan paling sesuai.
